Rabu, 28 Mei 2008

Festival Melawai 2008

Dengan mengusung tema “Bangun Partisipasi Masyarakat Wujudkan Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera,” Festival Melawai 24-25 Mei 2008 dibuka secara resmi oleh Bapak Fitrial, Camat Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.



Berbagai acara budaya dan kesenian disajikan pada festival yang diselenggarakan oleh event organizer “Kirana Production” kali ini, seperti:

- Tari Saman, yang merupakan salah satu tarian daerah yang disajikan dari Aceh, dibawakan oleh Remaja Putri SMAN 61

- Kesenian Tanjidor, yang merupakan kesenian khas Budaya Betawi, dibawakan oleh para sesepuh daerah setempat

- Reog Ponorogo, merupakan keseniang khas dari Jawa Timur

- “JIUG” Band beserta dengan band-band terkenal lainnya juga turut serta hadir meramaikan event kali ini yang diselenggarakan di sepanjang Jl. Wijaya IX, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.




Hadir langsung ditengah-tengah masyrakat jakarta selatan memang menjadi salah satu agenda Roadshow DiGiBOOK setelah menyasar komunitas Kampus dan Perkantoran.

Walaupun penyelenggaraan event ini sempat mundur beberapa minggu dari jadwal semula, peserta event kali ini tampaknya malah lebih siap dan lebih semarak. Beraneka ragam produk hadir pada Festival Melawai kali ini. Mulai dari perusahaan rokok berskala besar hingga produk fashion, peralatan rumah tangga, florist hingga pernak-pernik accessories lainnya.

Ibu-ibu yang berasal dari keluarga muda yang bermukim di seputar lokasi pameran, sangat antusias dan mendominasi dengan mengunjungi stand pameran satu per satu, dan tampaknya merupakan alternative hiburan di sela padatnya tingkat kesibukan / kegiatan mereka sehari-hari. Sore hingga malam hari, kaum muda masyarakat jakarta selatan mulai mendominasi. Mereka sungguh menikmati kelompok band yang memang telah diundang oleh pihak penyelenggara. Stand rokok mulai dibanjiri oleh pengunjung pada saat itu.

Sayangnya memang pada area festival kali ini tidak tersedia WiFi, sehingga mau tak mau kami harus kembali mempergunakan IM2 dan WiMode. Penyelenggaraan acara pameran di lokasi udara terbuka yang notabene tidak ber-AC juga membuat baterai laptop yang kami pergunakan tidak bisa bertahan lama. So, “Back to Nature” memang menjadi salah satu sub-tema yang diangkat pada event kali ini.





Lebih dari 150 member berhasil kami rangkul melalui event kali ini, dan sekaligus merupakan penutup Putaran Pertama Roadshow kami untuk wilayah Jakarta. Kota kembang Bandung merupakan tujuan selanjutnya. Nantikan kunjungan kami disana untuk menyapa masyarakat kota kembang ini secara langsung.

Rabu, 14 Mei 2008

Selamat kepada Bapak Kocin sebagai Pemenang DiGiBOOK Member ke-1000

Bertepatan dengan Roadshow DiGiBOOK di gerai Multiplus Kebon Jeruk Hari Kedua, Selasa 13 Mei 2008, Bapak Kocin yang pada sore hari itu tengah berkunjung ke gerai Multiplus Kebon Jeruk untuk menyelesaikan keperluan bisnisnya, cukup terkejut setelah dinyatakan sebagai pemenang DiGiBOOK Member ke-1000 oleh Rita, SPG DiGiBOOK, yang saat itu tengah bertugas mendampingi yang bersangkutan melakukan registrasi member secara online.

“Saya sebelumnya tidak tahu adanya keberadaan DiGiBOOK. Setelah saya ditawarkan oleh salah satu SPG DiGiBOOK saya tertarik untuk mendaftar jadi member, karena DiGiBOOK menawarkan alternatif cara membaca buku selain buku fisik. Setelah mendaftar, saya mendapat kejutan dengan memperoleh hadiah berupa DiGiBOOK Digital Voucher senilai Rp.100.000, CD DiGiBOOK Preview serta Voucher Free Warnet Multiplus. Saya terkesan dan berterima kasih kepada DiGiBOOK atas hadiah kejutan tersebut. Semoga DiGiBOOK dapat memperluas jaringannya sehingga menjadi pilihan utama masyarakat dan segera menjadi trend baru dalam membaca buku,” ungkap Bapak Kocin saat dimintakan testimonialnya pada saat itu.

Dengan disaksikan secara langsung oleh Store Manager dan Crew Multiplus, hadiah berupa DiGiBOOK Digital Voucher, CD DiGiBOOK Preview serta Voucher Free Warnet Multiplus: diserahkan oleh Rita kepada Bapak Kocin, disertai dengan ucapan selamat kepada ybs.

Selamat ya pak, dengan DiGiBOOK Digital Voucher senilai Rp.100.000, Bapak Kocin bisa mendapatkan belasan Judul Buku DiGiBOOK yang dipasarkan mulai dari Rp.6.000 dan bergaransi discount minimal 50% dari harga judul buku yang sama di toko-toko buku.

Melky, Store Manager Multiplus Kebon Jeruk pun turut menorehkan ucapan selamat atas tercapainya DiGiBOOK Member ke-1000. “Dengan tercapainya DiGiBOOK Member ke-1000, saya ucapkan selamat dan semoga ini dapat memacu kita semua semakin bekerja keras untuk merangkul new member sebanyak mungkin. DiGiBOOK sangat bagus karena dapat turut memicu tumbuhnya hobby membaca buku secara praktis tanpa harus direpotkan untuk membawa tumpukan buku. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan semoga sukses selalu,” tutur Melky saat dimintakan komentarnya oleh Gia selaku DiGiBOOK Project Manager.

Itupun juga yang menjadi harapan DiGiBOOK, yaitu terjadinya percepatan edukasi ke masyarakat bahwa kini telah tersedia alternatif untuk memperoleh buku-buku populer dalam bentuk digital, dengan garansi separuh harga, namun tetap legal serta praktis dan trendy.

Mari kita sama-sama bergandengan tangan untuk memerangi pembajakan buku sekaligus berpartisipasi aktif turut mencerdaskan bangsa melalui budaya membaca buku.

Jumat, 09 Mei 2008

DiGiBOOK Roadshow mulai membidik Eksekutif Muda yang berkantor di area Segitiga Emas

Setelah turut hadir pada perayaan HAKI sedunia ke-8 di FH-UI 30 April 2008 lalu, kini DiGiBOOK mulai membidik kalangan eksekutif muda yang berkantor di seputar area segitiga emas.

Sebagai lokasi roadshow-nya yang pertama di area perkantoran, akhirnya DiGiBOOK memilih Plaza BAPINDO, tepatnya di Assembly Hall-Lantai 8, Jl.Jend.Sudirman Kav 54-55, serta Lobby Utama Perkantoran Menara Sudirman, dimana lokasi keduanya saling berdekatan.

Seharusnya DiGiBOOK hadir penuh 4 hari berturut-turut 6-9 Mei 2008 di Plaza Bapindo, namun mengingat pengelola Menara Sudirman (yang telah kami booking lebih dulu) tidak memberikan ijin untuk re-schedule, akhirnya kami memutuskan untuk hadir di Lobby Utama Perkantoran Menara Sudirman pada tanggal 7 Mei 2008.

Hari pertama kami hadir di Plaza Bapindo kami cukup terpanjat melihat pengunjung yang hadir tidak sesuai dengan market segment yang kami tuju. Mayoritas pengunjung disana kebanyakan Ibu-Ibu yang sangat suka berkerumun pada stand pakaian, sepatu sandal serta stand accessories lainnya.

Namun apapun yang terjadi, kami tetap optimis dan tetap berusaha mencari target market yang sesuai. Setelah semua perlengkapan selesai kami siapkan, kami (Gia, Murni, Rita dan Rachmad) mulai menjalankan tugas masing-masing.

Murni dan Rita, bertugas untuk mencari prospek. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan proses demi proses menjadi member, membaca buku digital (dari preview sampai dengan proses pembelian dan aktivasinya). GIA bertugas mempersiapkan internet connection yang dipergunakan. Di sini kami tidak bisa menggunakan WiFi, sehingga untuk internet connection kami coba menggunakan IM2 & Wimode. Namun sayangnya koneksi via IM2 di area ini, kurang dapat berjalan dengan lancar, sehingga untuk registrasi member seringkali harus dilakukan secara manual agar customer tidak menunggu terlalu lama. Sedangkan Rachmad bertugas untuk mengawasi orang yang berlalu lalang di sekitar stand digibook, yach berjaga-jaga untuk keamanan barang-barang yang kami bawa, mengingat event kali ini dikelilingi stand pakaian serta accessories yang cukup padat.

Saat istirahat makan siang, para karyawan yang bekerja disini mulai mengunjungi stand-stand pameran. Mereka mulai berdatangan untuk melihat-lihat stand-stand yang ada. Walaupun sebagian besar yang datang adalah kaum ibu-ibu yang suka melihat-lihat pakaian, tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk memperkenalkan product kami kepada mereka. Pada hari itu kami cuma berhasil merangkul 45 orang member. He he...untuk roadshow berikutnya, harus lebih jeli meneliti jenis pengunjung-nya nih...

Roadshow kami di Lobby Utama Menara Sudirman, jauh lebih sukses. Eksekutif muda yang banyak berlalu –lalang di sini sungguh sangat sesuai dengan segmen utama kami. Mereka sangat antusias sekali dengan produk kami. Walaupun banyak dari mereka yang terlihat bergegas, mereka tetap menyempatkan diri untuk menitipkan kartu nama mereka yang berisi email address untuk ditukarkan dengan CD Preview DiGiBOOK sambil meminta bantuan kami untuk langsung register sebagai DiGiBOOK member. Walaupun kami cukup terlambat memulai roadshow pada pagi hari itu (karena rahmad harus terlebih dahulu memindahkan perlengkapan pameran hari sebelumnya dari gedung sebelah), hampir 150 orang member berhasil kami rangkul pada hari itu.

Berbeda dengan yang kemarin, di sini tidak ada stand lain, karena memang hanya boleh ada 1 stand saja per harinya, dan hari itu DIGIBOOK yang mendapatkan kesempatan tersebut. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada PPKP Menara Sudirman, yang telah mempersilahkan kami untuk roadshow disana.

Semoga pada event roadshow berikutnya, akan semakin banyak masyarakat yang berminat untuk bergabung sebagai DiGiBOOK member. Melalui event roadshow yang akan terus kami genjot dalam waktu dekat, kami harapkan word of mouth multiplier effect dapat segera bergulir … kan harga produk buku digital kami sudah jauh lebih murah dibandingkan dengan harga buku fisik. he he he ...

Minggu, 04 Mei 2008

DiGiBOOK Memberikan Pelatihan Penjualan Digital Voucher Kepada Store Manager Multiplus Wilayah JaBoDeTaBek.

Kesepakatan kerjasama yang telah terjalin atas penjualan DiGiBOOK Digital Voucher melalui gerai-gerai Multiplus, untuk tahap pertama, ditindaklanjuti dengan pembekalan product knowledge kepada Store Manager Multiplus wilayah JaBoDeTaBek.

Mengingat adanya keterbatasan kapasitas ruang di Multiplus Training Center, pelatihan yang dilakukan 30 April 2008 yang lalu dibagi menjadi dua sesi. Diikuti tidak kurang dari 34 Store Manager Multiplus se-JaBoDeTaBek serta belasan Back-Office Multiplus Manager & Staff (HRD, IT, FRO, etc).

Setelah Yusril, FRO Multiplus, memberikan pengantar singkat, Imanuel selaku Direktur Operasional DiGiBOOK turun tangan secara langsung memberikan pelatihan kepada peserta pelatihan yang merupakan affiliate partner pertama dari DiGiBOOK ini.

Setelah menyampaikan terima kasih atas kesempatan pelatihan yang telah Multiplus fasilitasi, peserta pelatihan langsung mendapatkan cecaran pertanyaan dari Imanuel. “Dulu, saat pihak kampus atau sekolah meminta kalian untuk membeli setumpuk buku untuk meng-awali tahun ajaran baru, apa yang pertama kali terbersit di benak kalian?”, wah...belum apa-apa peserta pelatihan sudah dibuat pusing untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus mengalir. Rupanya ini adalah pola yang digunakan oleh Imanuel agar peserta dapat secara lebih cepat memahami dan menghayati materi pelatihan yang disampaikan.

Suasana pelatihan menjadi lebih hidup, jauh dari kesan mengantuk yang biasa kerap menghinggapi peserta pelatihan. Peserta pelatihan terus dipacu untuk menjadi pro-aktif, baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, maupun dengan melontarkan pertanyaan selama pelatihan berlangsung. Peserta yang secara pro-aktif bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan, langsung memperoleh coklat...wah ada beberapa peserta yang berhasil memperoleh coklat lebih dari 5 buah lho...jadi bisa membuka warung coklat...he he he...malah ada beberapa peserta yang langsung melahap coklat yang telah diperolehnya. Mungkin khawatir diminta oleh peserta pelatihan yang lain kali ya...hii...

Selain membekali peserta pelatihan dengan product knowledge, segmen market yang dibidik, customer benefit, SOP, handling customer objection, pemanfaatan database Multiplus Membership Club serta cross-selling technique untuk memperoleh prospek, gerai-gerai yang dipimpin oleh peserta pelatihan juga di tantang untuk menjadi 3 gerai penjual DiGiBOOK Digital Voucher terbanyak dan memperebutkan paket wisata ke pulau dewata Bali sebagai grand-price nya, serta sejumlah pilihan paket wisata ke sejumlah tempat wisata di indonesia lainnya, seperti Bromo, Pangandaran, Tangkuban Perahu serta Dufan.

Namun pada sesi pertama ada peserta yang menanyakan apakah hadiah paket wisata yang diperebutkan tersebut bisa di-uang-kan saja...he he...ternyata masih ada yang lebih suka menerima mentahnya saja ya...hii...boleh...boleh...DiGiBOOK akan menyerahkan opsi tersebut nantinya kepada Store Manager Gerai Pemenang. 3 Gerai penjual DiGiBOOK Digital Voucher terbanyak, dapat memperoleh maksimal 2 paket wisata yang sesuai dengan target pencapaian yang telah ditetapkan.

Gerai-gerai Multiplus juga dibekali dengan keping DiGiBOOK CD Preview, yang memuat lebih dari 100 judul buku-buku digital populer, yang akan diberikan secara gratis kepada pembeli DiGiBOOK Digital Voucher, sehingga dapat mempermudah pembeli untuk memperoleh sebagian besar buku-buku digital yang disukai tanpa harus men-download buku-buku digital tersebut melalui DiGiBOOK Website, kecuali bilamana pembeli ingin memperoleh judul buku-buku digital terbaru lainnya yang masih belum terdapat pada keping DiGiBOOK CD Preview yang bersangkutan, mengingat setiap harinya akan selalu ada penambahan buku-buku digital judul terbaru lainnya pada DiGiBOOK Website.

Untuk membantu gerai-gerai Multiplus melakukan edukasi DiGiBOOK Digital Voucher kepada para pelanggannya, DiGiBOOK juga akan meminta ijin kepada Direksi Multiplus atas penempatan SPG DiGiBOOK di gerai-gerai Multiplus potensial secara bergantian.

Dan pada akhirnya, kami dari pihak DiGiBOOK, mengharapkan keberadaan new product DiGiBOOK Digital Voucher ini dapat tersosialisasi dengan baik, baik kepada pelanggan maupun kepada segenap internal crew / operator Multiplus. Namun bukan hanya sekedar sosialisasi saja yach ... akan tetapi mari kita berlomba-lomba untuk menjadi 3 gerai penjual DiGiBOOK Digital Voucher terbanyak … kan lumayan, selain bisa menaikkan omzet gerai, kita juga bisa jalan-jalan gratis…. he he he ..

Selasa, 29 April 2008

DiGiBOOK Hadir pada Peringatan Hari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-8 di FH-UI Depok.

Kamis, 24 April 2008, Roadshow pertama DiGiBOOK di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok. Di hari pertama ini banyak sekali yang harus dipersiapkan, terutama dalam hal internet connection. Kami berpikir yang namanya kampus, pasti hotspot areanya bebas dan siapa saja yang berada di lingkungan kampus pasti bisa memakainya.

Tetapi berbeda dengan kampus yang satu ini, untuk bisa menggunakan hotspot, kami harus mengurus setting IP nya terlebih dahulu di kantor dekan UI, yang jaraknya lumayan jauh. Setelah bisa menggunakan hotspot tersebut, kami baru mulai menjalankan tugas masing-masing.

Indri dan Rita, bertugas untuk mencari mahasiswa yang berminat menjadi member DiGiBOOK. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan tahapan proses registrasi member, serta benefit dan keunikan membaca buku digital.

Sedangkan Gia bertugas memberikan penjelasan ke mahasiswa yang sudah datang ke Stand DiGiBOOK (cara membuka Web DiGiBOOK serta fitur-fitur yang terdapat pada Web DiGiBOOK). Sedangkan Rachmad bertugas untuk mengawasi orang yang berlalu lalang di sekitar Stand DiGiBOOK, yach berjaga-jaga untuk keamanan barang-barang yang kita bawa.

Kira-kira jam 11.00 WIB, Kami diminta oleh panitia untuk menghadiri Seminar HKI (Hak Kekayaan Intelektual) di aula Fakultas Hukum UI tersebut. Berikut sekilas rincian seminar yang kami peroleh selama mengikuti acara tersebut :

HKI lebih dari Sekedar Pengamanan Hukum.

Berbagai instrumen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) harus dipahami oleh para pencipta karya sebagai alat utama yang bermanfaat untuk mengamankan ciptaannya, terutama apabila akan digunakan untuk tujuan komersialisasi. Melalui HKI, diberikan jaminan hukum yang memadai (tentu apabila diikuti dengan kapasitas pranata penegak hukumnya) yang melindungi kepentingan pencipta.

Namun melihat realitas Indonesia saat ini, saya rasa HKI harus diartikan lebih jauh dari sekedar tindakan pengamanan. HKI harus diartikan sebagai wujud apresiasi, penghargaan, setiap manusia, termasuk pencipta (produsen) dan penikmat ciptaan (konsumen) atas nilai dari ciptaan yang dihasilkan tersebut. Harus dimaknai bahwa dengan timbulnya kesadaran akan HKI (bahwa di dalam suatu ciptaan melekat hak cipta, desain industri, merek, ataupun instrument HKI lainnya), timbul pula kesadaran masyarakat akan potensi (ekonomis) yang sangat besar dari ciptaan tersebut.

Kita tidak membutuhkan orang lain untuk menilai ciptaan-ciptaan domestik. Jangan sampai kondisi seperti industri pertambangan terjadi lagi pada industri-industri berbasis intelektual di Indonesia. Kita pun bisa menghargai hasil ciptaan anak bangsa dengan menghormati HKI yang terkandung di dalamnya.


Selesai seminar kami kembali lagi ke Stand, namun tidak seperti yang dibayangkan bahwa yang namanya kampus, seharusnya mahasiswanya antusias sekali dengan stand-stand yang ada di lingkungan kampusnya. Tapi mahasiswa di sini tidak seantusias yang kami bayangkan. Yach maklumlah, mungkin mereka sedang sibuk Ujian Tengah Semester (UTS).

Sewaktu diberikan gambaran mengenai DiGiBOOK, mereka berpikiran kalau DiGiBOOK itu adalah penjualan laptop mini, sampai-sampai mereka menanyakan harga, tipe dan merk laptopnya, (apa karena kita membawa laptop yach???). Setelah kita menjelaskan panjang lebar tentang DiGiBOOK, barulah beberapa dari mahasiswa di sini bertanya soal legal/tidaknya Buku Digital ini. Yach maklumlah mereka kan abis ikut seminar HKI.

Tetapi ada juga yang bertanya mengenai buku-buku hukum, buku-buku pelajaran dan ada saja pertanyaan-pertanyaan yang lainnya. Tetapi syukurlah, kami bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Ada juga yang memberi saran untuk Web DiGiBOOK, agar menu pencarian ada di setiap halaman web, supaya tidak bolak-balik ke menu utama, sarannya kita tampung yach…

Bazar di kampus ini sepi, padahal ada begitu banyak stand yang mengelilingi kampus mereka (kurang lebih ada 25 stand, yang berkategori makanan, minuman, pakaian, asesories, sepatu & sandal, produk kecantikan, kartu telepon sampai dengan penjualan handphone).

Di hari pertama ini member yang kami dapat tidak sesuai dengan target. Kami berharap di kedua bisa lebih banyak lagi mahasiswa yang mengunjungi Stand DiGiBOOK dan mau bergabung sebagai DiGiBOOK Member.

Jum’at, 25 April 2008, hari kedua kami ikut pameran. hari ini kami berusaha semaksimal mungkin untuk menarik dan memikat mahasiswa, supaya datang mengunjungi Stand kami. Mahasiswa di sini sudah mulai tahu kalau Stand DiGiBOOK adalah Stand Buku-Buku Digital dan harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga buku fisik toko buku.

Di hari kedua ini, kami kebanyakan demo dan menjelaskan cara login dan membuka Web DiGiBOOK sampai dengan proses beli dan aktivasinya secara detail. Namun hotspot UI yang kami gunakan sebagai akses untuk connection internet sangat tidak bisa diandalkan. Sehingga cukup menghambat kami untuk demo melalui internet langsung, sampai-sampai kami harus menggunakan modem IM2 dan WiMode untuk bisa akses internet lagi.

Hari kedua ini ternyata sama saja sepinya dengan hari yang pertama.

Sabtu, 26 April 2008, hari ketiga dan terakhir kami di kampus UI Depok ini pindah stand ke tempat yang bernama Balairung UI Depok. Tempatnya berada agak jauh dari Fakultas Hukum. Ditempat ini kami berharap mahasiswa akan lebih banyak, karena di sini semua mahasiswa dari semua Fakultas UI akan berkumpul untuk menyaksikan band-band yang akan pentas dan juga dihadiri oleh beberapa bintang tamu, seperti fungky kopral, ipang BIP, dan band cokelat.

Namun lagi-lagi kenyataan dilapangan jauh di luar dugaan kami. Ternyata sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Mahasiswa yang hadir tidak sebanyak yang kami bayangkan. Ada group band yang terkenal saja, mahasiswanya tidak ramai untuk melihat acara tersebut, apalagi jika tidak ada group bandnya.He he he….. Mungkin juga batalnya kehadiran Habiburrahman El Shirazy - penulis novel ayat-ayat cinta, merupakan faktor utama sepinya event kali ini.

Tapi biar bagaimanapun kami tetap berusaha untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin…lumayan dari event kali ini DiGiBOOK mendapat tambahan lebih dari 200 member...





Sabtu, 05 April 2008

Membaca Novel di LAPTOP

Menggandeng para penerbit, Digibook.com rajin membuat buku versi digital dengan harga hemat.

“Dunia sungguh tak adil.” Begitulah yang ada di pikiran Arifin. Lelaki yang tinggal di balik Bukit Parung Kuda, Sukabumi, itu begitu menginginkan buku-buku bermutu, seperti Barack Obama, Laskar Pelangi, atau Jeff Bezos, pendiri Amazon.com. Tapi apa daya, kota itu terlalu kecil untuk disinggahi toko buku yang memajang buku-buku baik.

“Susah cari buku di sini.” Kata Arifin mengeluh.

Untunglah, keluhannya itu kini terjawab. Bukan lantaran di kota itu kini telah hadir toko buku bermutu, melainkan karena ia kini bisa membeli buku elektronik (e-book) secara online untuk dibaca di komputer.

Buku-buku elektronik itu bisa diakses lewat situs http://www.digibookgallery.com. Banyak penerbit yang sudah bekerja sama membuat buku elektronik, di antaranya Grup Mizan, Ufuk Press, bahkan penerbit cerita silat Wastu Laras Grafika juga ikut.

Mizan Group adalah salah satu contoh penerbit yang bersemangat menggarapnya. Perusahaan dengan sederet penerbit di bawah payungnya itu telah menyiapkan sekitar 80 buku elektronik.

Maret nanti, kata Putut Widjanarko, Vice President Operations Mizan Publika – divisi Mizan yang menangani segmen new media, seperti e-book, novel di telepon seluler, dan talking book – koleksi buku elektronik Mizan akan mencapai 100 buku. Buku Grup Mizan yang sudah disulap menjadi buku elektronik di antaranya Laskar Pelangi, Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca, Barack Hussein Obama, dan Hermawan Kartajaya on Brand, The Road to CEO.

“Jadi buku Mizan bisa dibaca dari mana saja.” Kata Putut.

Upaya Mizan menerbitkan e-book ini sebenarnya telah dirintis sejak 2001. Saat itu mereka merilis buku elektronik yang gratis diunduh di situs Ekuator.com. Ternyata penggemar buku elektronik cukup banyak. “Server kami sampai down.”

Kesuksesan itulah yang kini mengilhami Mizan menggandeng Digibook. Buku-buku elektrobik itu bisa diunduh lewat situs http://www.digibookgallery.com. Buku elektronik ini menggunakan format khusus, bukan format PDF ala Acrobat Reader, sehingga sulit dibajak. Software pembaca bukunya disediakan gratis.

Harganya? “Dijamin lebih hemat,” kata Putut. Rata-rata harganya separuh dari buku versi cetak. Novel Laskar Pelangi, misalnya, versi digitalnya dijual seharga Rp.28.800. Bandungkan dengan edisi cetaknya, yang mencapai Rp 48 ribu.

Buku yang sudah dibeli, kata Putut, hanya bisa dipasang di satu komputer. Lalu bagaimana kalau komputer crash? “Ya, hilang. Anggap saja seperti beli buku biasa, lalu jatuh ke got,” ujar Putut.

Bagi penulis buku elektronik, ini juga sebuah tantangan baru. Mizan, misalnya, menurut Putut, berani menawarkan royalti yang bisa berbeda dengan edisi cetak. “Wah, ini benar-benar tawaran menarik,” kata Onno W. Purbo, pakar Internet yang telah menulis 10 buku.

Bakal berhasilkah langkah Digibookgallery.com ini? Putut tak bisa memberikan gambaran. Namun, kata dia, era konvergensi media kini telah tiba. Layar monitor atau LCD kini telah berkembang luar biasa hebatnya. Sampai-sampai ada peranti pembaca buku elektronik, seperti Kindle keluaran Amazon.com, yang bisa dibaca di bawah sinar matahari terik.

“Saat peluncuran Kindle, hanya dalam waktu lima setengah jam laku terjual,” kata Putut. Ia buru-buru menambahkan, penjualan buku elektronik di Indonesia mungkin belum sedahsyat itu, tapi demam seperti itu bakal segera tiba. Burhan

Koran Tempo edisi XXII, Jumat, 22 Februari 2008

Rabu, 02 April 2008

E-Book di Bak Mandi? BISA!

Chris Steib mungkin cuma seorang bujangan di New York, Amerika Serikat, yang kebetulan menjadi anggota gather.com, sebuah website jejaring sosial semacam friendster.com. Tapi di halamannya di website itu, melalui posting berjudul “The Ultimate eBook Experiment: Reading in the Bathtub”, dia dengan telak, walau juga mengundang gelak, menepis salah satu wujud keraguan terhadap buku elektronik atau e-book; bahwa e-book bisa dibaca sambil berendam di bak mandi, sedangkan buku konvensional justru mustahil.

Semua itu, menurut pengantar yang Steib tulis, bermula dari pernyataan Margaret Atwood, novelis dan penyair dari Kanada, dalam satu forum di London Book Fair tentang apa yang dia pandang sebagai kelemahan terbesar e-book. Berbeda dengan “buku reguler”, kata Atwood, e-book tak bisa dibaca sambil berendam di bak mandi. Steib memutuskan untuk mengakhiri “teori” itu. Dia mengacu Sony Readernya yang masih gres dengan satu edisi The Crying of Lot 49, novel karya Thomas Pynchon, di lingkungan yang “Bu Atwood begitu berani menyebut sebagai domain sebenarnya dari buku kertas – bukan digital”.

Steib tentu tak mau mengambil risiko Sony Reader-nya rusak karena air. Dia memanfaatkan plastik pembungkus untuk melindungi Sony Reader-nya maupun novel Pynchon. Dengan sederet foto, Steib menunjukkan betapa Sony Reader tetap berfungsi sebagai mestinya sekalipun dalam keadaan terbungkus plastik; dia bisa memilih buku yang dibaca dan membalik-balik halamannya. Sebaliknyalah yang terjadi dengan novel Pynchon: dalam keadaan terbebat plastik, mana mungkin orang bisa membalik-balik halamannya?

Banyak orang yang berpandangan seperti Atwood. Dalam kenyataannya, kita mungkin juga cenderung begitu. Atau, paling tidak, kita akan berpendapat sebagaimana halnya kebanyakan orang bahwa buku adalah sesuatu yang mesti kita terima apa adanya; ia memang temuan yang menakjubkan, yang dirancang dengan sempurna, terus berfungsi, dan bermanfaat sepanjang masa tanpa petunjuk penggunaan dan... ya, baterei. Dengan kata lain, sebagai sebuah temuan, buku sudah begitu sempurna, yang tak mungkin dibuat lebih baik.

Namun, tentu saja, ada pula orang-orang lain yang “senakal” Steib. Dalam wujud lain, semangat Steib ada pula dalam diri Jeff Bezos, pemilik toko buku terbesar di dunia maya, Amazon.com. Dia cinta buku, sebagai profesional maupun pribadi – dia termasuk pembaca buku yang rakus, dan istrinya adalah seorang novelis. Walau begitu, dia punya keyakinan bahwa akan tiba saatnya buku pun bakal melebur ke dalam gelombang digitalisasi, mengikuti jejak musik, video, dan bacaan dalam format pendek.

Menurut dia, untuk menyongsong masa itu hanya diperlukan layanan yang tepat. Layanan yang dimaksud adalah perangkat yang bukan saja berfungsi sebagai reader atau pembaca buku-buku berformat digital, melainkan juga mampu melakukan fungsi-fungsi lain yang merupakan perbaikan dari buku konvensional dan hal-hal di luar itu yang merupakan perbaikan dari buku konvensional dan hal-hal di luar itu yang merupakan kemungkinan-kemungkinan baru. Dia punya solusi, yakni perangkat bernama Kindle, yang mulai dijual pada November 2007.

Sebagai reader, Kindle bukan satu-satunya. Sony Reader, di antaranya, sudah lebih dulu ada. Bisa dipastikan, para pendahulu Kindle bakal berusaha keras untuk mengejar ketinggalan, dengan memasang kemampuan-kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada. Tapi, apa pun yang mereka lakukan, e-book memang merupakan keniscayaan. Hanya tinggal waktu saja. Buku konvensional? Mungkin hanya para kolektor saja yang kelak membelinya.


koran tempo, edisi 48, maret 2008